Mei 2008. Masih teringat segar dalam ingatanku akan bulan itu. Awal aku meniti karir dalam dunia menulis di sebuah lembaga pers mahasiswa Scientiarum milik Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Tak ada seleksi dalam proses penerimaannya. Pokoknya simpel, mungkin karena lembaga ini tidak mau mengikuti aturan birokrasi yang kadang justru membuat pusing tujuh keliling.
Waktu itu aku dipertemukan dengan Satria Anandita oleh seorang teman. Satria adalah pemimpin redaksi (pemred) pada saat itu. Aku menyatakan keinginanku untuk bergabung kepada Satria dan dia langsung menerimaku begitu saja. “Kalau kamu ingin gabung, besok ikut rapat,” kurang lebih begitu kata Satria. Aku cukup merasa senang pada waktu itu. Senang karena keinginanku terkabulkan.
Rapat perdana itu terjadi siang hari. Beberapa dedengkot Scientiarum telah berkumpul di taman depan gedung Lembaga Kemahasiswaan. Aku malu sekaligus grogi pada saat itu. Rasa malu dan grogiku muncul bukan karena lelaki tua seperti Bambang Triyono, Geritz Febrianto Rindang Bataragoa atau Bagus Ferry Permana, tapi karena dua cewek cantik Yosia Nugrahaningsih dan juga Aqirana Adjani Tarupay.
Aku tak ingat apa yang menjadi hasil rapat saat itu, karena konsentrasiku teralihkan pada dua cewek cantik tersebut. Maklum, karena bagiku wanita adalah sumber inspirasi, jadi tak salah kalau aku mengagumi wanita, apalagi wanita itu cantik, hehe…
Sebelum tergabung menjadi reporter di Scientiarum, aku juga terlibat di organisasi ekstra kampus. Kegiatan sehari-hari yang aku lakukan sudah pasti ngomong politik dan ujung-ujungnya demo gembar-gembor di jalan. Kalau pas demo rasanya bangga banget, apalagi pas dijepret kamera oleh wartawan. Masuk koran cuy, hahaha…
Keesokan hari setelah rapat, aku mendapat tugas untuk meliput berita tentang aksi demo mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM. Dalam hati aku berkata: biasanya jadi tukang demo sekarang meliput orang demo. Tugas pertamaku berbuah hasil sebuah berita dengan judul “Kari Salatiga Tolak Kenaikan Harga BBM”. Meskipun sang editor mangkel setengah mati karena tulisanku yang kacau tapi aku bangga atas suksesnya kerja pertamaku.
Menjadi reporter sungguh nikmat bagiku. Selain tulisannya bakal dibaca banyak orang, aku juga bisa memiliki banyak relasi. Dan yang lebih menguntungkan adalah bisa melanglang buana dengan gratis.
Baru saja beberapa bulan menjadi reporter, aku sudah bisa jalan-jalan ke Jakarta untuk tugas liputan Kontes Robot Nasional di Universitas Indonesia pada 2008. Pengalaman yang sungguh luar biasa bagiku: wartawan cupu mendapat tugas liputan ke Jakarta seorang diri. Pengalaman luar biasa yang berikutnya adalah berjalan kaki beberapa kilometer jauhnya dari gerbang kampus UI Depok menuju Balairung Universitas UI. Hal itu aku lakukan karena aku tidak tahu dan berlagak sok tahu, hehehe…
Beberapa bulan berikutnya aku dan James Anthony Leonard Filemon mendapat tugas untuk menghadiri Simposium Generasi Pers Mahasiswa (Sigermas) di Universitas Lampung. Lagi-lagi mendapat kesempatan jalan-jalan gratis. Kalau di kota Lampung aku tak mungkin kesasar, karena di kota tersebut aku lahir dan dibesarkan.
Untuk jalan-jalan kali ini lebih istimewa dari sebelumnya. Selain bisa mendengar celotehan Bambang Harymurti (wakil ketua Dewan Pers) dalam acara Sigermas, aku juga bisa menggaet banyak relasi di tingkat nasional. Namun yang lebih istimewa daripada itu semua adalah aku dan James bisa menikmati goyangan maut para biduan sambil menenggak secangkir kopi yang harganya selangit di atas kapal. Serasa jadi orang tajir boy…
Belum puas menjadi reporter aku sudah mendapat jatah kursi kepemimpinan di Scientiarum. Per Januari 2009 aku diangkat menjadi pemred. Satria mengundurkan diri dari jabatan pemred karena alasan capek setelah majalah perdana Scientiarum “Jas Merah” terbit.
Waktu itu proses pemilihan pemred dilakukan secara demokratis ala Scientiarum. Tiga nama muncul untuk menjadi calon pemred: aku, Daniel Pekuwali (baru saja bergabung), dan seorang gadis kelahiran Timor Leste yang lebih senior daripada aku, Maria de Jesus Nunes. Namun dua calon yang lain mengundurkan diri dengan alasannya masing-masing, dan mau gak mau aku harus menanggung jatah kepemimpinan.
Bambang Triyono, dedengkot Scientiarum, saat itu menjabat sebagai pemimpin umum. Sedangkan Bagus Ferry sudah meninggalkan Scientiarum lebih dulu, karena dia sudah menjadi sarjana. Tak lama kemudian, Satria juga ikut mengundurkan diri setelah pergantian masa kepemimpinan. Tak banyak yang tersisa saat itu. Hanya ada dua cewek cantik, Bambang, Daniel, James, Febri, aku, dan komputer butut yang kini sudah menemui ajalnya.
Berbicara mengenai sumberdaya manusia, sungguh mengenaskan pada waktu itu. Dua cewek cantik sumber inspirasiku ikut mengundurkan diri karena kesibukannya masing-masing. Dan yang tersisa hanyalah empat orang: aku, Bambang, James, Febri, dan Daniel. Mau tak mau kami yang tersisa harus merangkap jabatan. Yang pasti kondisi menjadi semakin semrawut saat itu.
Perekrutan demi perekrutan aku lakukan guna menambah sumberdaya Scientiarum. Jatuh bangun sudah menjadi hal biasa waktu itu, tapi aku tetep semangat. Semua karena dukungan dari Bambang Triyono, dedengkot Scientiarum yang sudah kenyang makan asam garam dan tahu persis Scientiarum.
Setelah gagal berkali-kali dalam urusan perekrutan, aku menemui Debora yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum. Masa jabatannya sudah akan segera berakhir, dan saat aku tawari masuk Scientiarum, dia mau. Karena sudah terbiasa mengurusi proposal di senat, aku meminta Debora untuk masuk menjadi manajer bisnis, karena saat itu kebetulan divisi tersebut sedang kosong penumpang.
Perekrutan kembali aku lakukan secara besar-besaran dan hasilnya cukup memuaskan. Beberapa anggota yang aku rekrut hingga saat ini masih menjadi anggota, bahkan ada yang menduduki jabatan paling tinggi di Scientiarum.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar